
RJH House karya Wiyoga Nurdiansyah di Jakarta Selatan berangkat dari kebutuhan keluarga beranggota lima orang akan rumah yang tenang, taman, dan tempat berkumpul bersama keluarga besar. Hunian seluas 530 m² ini selesai pada 2024. Rancangannya menata fungsi melalui tiga massa yang berbeda, kemudian menyatukannya lewat hubungan ruang, penanam beton, serta pengulangan tekstur pada bagian luar dan dalam.
Tiga massa menjelaskan pembagian fungsi

Menurut penjelasan biro, bentuk kubus utama menampung bagian rumah tinggal. Volume dengan sudut membulat menjadi wadah tangga dan sirkulasi, sedangkan blok yang lebih besar menampung fungsi servis. Pembagian tersebut membuat bentuk bangunan memiliki hubungan langsung dengan kegiatan di dalamnya, sehingga perbedaan volume tidak berhenti sebagai permainan tampilan.
Ketiga bagian itu dihubungkan oleh sebuah elemen penanam dari beton ekspos yang menerus hingga fasad. Penanam menjadi bagian dari komposisi bangunan sekaligus tempat hadirnya vegetasi. Pada foto depan, bidang tanaman tersebut membentuk lapisan di antara massa rumah dan pandangan dari jalan.
Diagram aksonometri dari situs biro membantu membaca susunan tersebut secara menyeluruh. Gambar ini memperlihatkan hubungan massa dan ruang terbuka, bukan denah teknis untuk pelaksanaan. Pembaca dapat menggunakannya untuk memahami gagasan bentuk sebelum melihat lebih dekat bagaimana permukaan dan ruang diolah.
Tekstur fasad bekerja pada beberapa skala

Material utama fasad adalah plester beralur dengan pola geometris sederhana. Biro menjelaskan bahwa pembagian bidang plester dimaksudkan untuk membantu mengendalikan retak pada permukaan besar. Polanya juga menegaskan karakter tekstural dinding, sehingga bidang yang luas dapat dibaca sebagai susunan bagian yang lebih kecil.
Bata yang disusun saling mengunci menambahkan kedalaman pada bagian lain bangunan. Menurut arsitek, susunan ini menciptakan naungan kecil pada permukaan dan mengurangi paparan sinar matahari langsung. Tujuannya adalah membatasi perolehan panas melalui dinding luar; dokumentasi yang tersedia tidak menyertakan angka pengukuran temperatur atau penghematan energi.
Perbedaan antara alur plester, susunan bata dan permukaan beton menghasilkan variasi tanpa memerlukan banyak jenis bahan. Pada selasar, bata dapat dilihat dari jarak dekat, sementara vegetasi dan penanam memberi lapisan lain pada pandangan. Tekstur karena itu terbaca berbeda saat rumah dilihat dari jalan dan ketika penghuni bergerak di dalamnya.
Ruang bersama diberi beberapa pilihan skala

Lantai dasar dirancang sebagai ruang terbuka yang cukup luas untuk pertemuan keluarga besar. Ruang duduk berplafon tinggi terhubung dengan teras besar dan ruang makan. Hubungan tersebut memungkinkan kegiatan bersama berlangsung melalui beberapa suasana ruang, dari area utama yang tinggi hingga bagian peralihan yang berdekatan dengan taman.
Di lantai atas, sebuah jembatan kayu menghubungkan area kamar tidur dengan volume tangga yang terpisah. Elemen ini sekaligus memberi aksen material hangat pada komposisi yang banyak menggunakan beton dan plester. Sirkulasi menjadi bagian yang terlihat dalam pengalaman ruang bersama, bukan jalur yang seluruhnya disembunyikan.
Pembahasan ini memiliki titik temu dengan EL House di Jakarta yang menempatkan ruang berkumpul sebagai dasar rancangan. Keduanya dapat dibaca melalui hubungan kegiatan keluarga dan susunan ruang, sambil tetap memperhatikan bahwa bentuk, pembagian massa, serta pilihan material setiap proyek berbeda.
Taman terhubung melalui bukaan dan material

Hubungan ruang dalam dan luar tidak hanya dibentuk oleh bukaan besar. Bata dan plester beralur dari fasad juga diteruskan ke interior. Pengulangan tersebut mempertahankan kesinambungan tekstur saat pandangan bergerak melewati bidang kaca atau ketika penghuni berpindah dari ruang tertutup ke teras.
Dalam penjelasan biro, pendekatan ini diarahkan untuk menghadirkan pengalaman taman ke dalam rumah. Foto-foto proyek menunjukkan bagaimana penanam, pepohonan dan permukaan dinding tetap menjadi bagian dari pandangan di dekat bukaan. Kayu memberi lapisan material lain pada bangku dan bagian interior tanpa menghilangkan karakter beton serta bata.
Proyek berada di Jakarta Selatan, Indonesia. Peta berikut menunjukkan konteks kawasan secara umum. Alamat atau titik persis rumah pribadi tidak diperlukan untuk memahami strategi pembagian massa, ruang berkumpul, dan hubungan taman yang menjadi pokok pembahasan.
Wiyoga Nurdiansyah menyatukan pembagian fungsi dan pengalaman material melalui massa yang berbeda, ruang bersama yang saling terhubung, serta taman yang terus hadir dalam pandangan. Dokumentasi resmi RJH House menjelaskan dasar keputusan tersebut. Proyek ini memperlihatkan cara membaca rumah tropis melalui hubungan bentuk, permukaan, dan kehidupan keluarga, dengan hasil termal terukur tetap menjadi hal yang tidak dilaporkan dalam sumber.
| Informasi proyek | Keterangan |
|---|---|
| Lokasi | Jakarta Selatan, Indonesia |
| Arsitek | Wiyoga Nurdiansyah |
| Program | Rumah tinggal keluarga |
| Luas yang dilaporkan biro | 530 m² |
| Tahun selesai | 2024 |
| Pembagian massa | Rumah utama; tangga dan sirkulasi; servis |
| Material yang dijelaskan biro | Beton ekspos; plester beralur; bata; kayu |
| Hubungan ruang | Ruang duduk tinggi; teras; ruang makan; jembatan kayu lantai atas |
| Gambar teknis yang digunakan | Diagram aksonometri massa dari animasi resmi biro |
| Kredit foto / diagram | Arte Haus, melalui Wiyoga Nurdiansyah / Wiyoga Nurdiansyah |








