
Banjar House karya Wiyoga Nurdiansyah menata rumah seluas 225 m² pada lahan hook di Tangerang Selatan. Dua sisi yang terpapar lingkungan luar menjadi titik awal untuk mengatur orientasi, privasi, dan hubungan dengan taman. Proyek yang sudah selesai ini menarik dibaca melalui tiga perangkat ruang: bukaan ke utara, jalur hijau memanjang, serta ramp sebagai penghubung vertikal. Ketiganya ditempatkan dalam susunan rumah dua lantai dengan karakter beton dan kayu.
Menghadapi dua sisi dengan cara berbeda

Lahan sudut memberi rumah dua sisi yang terbuka. Dalam penjelasan biro, massa bangunan dipanjangkan mengikuti arah timur–barat, sementara bukaan diarahkan ke utara. Sisi utara ditemani area hijau yang berfungsi sebagai penyangga privasi. Susunan tersebut mempertemukan kebutuhan melihat keluar dengan kebutuhan menjaga kegiatan domestik dari paparan lingkungan sekitar.
Fasad depan yang menghadap timur justru ditangani sebagai bidang yang lebih masif. Perbedaan ini menunjukkan bahwa keterbukaan rumah tidak dibagi rata ke semua arah. Setiap sisi memperoleh tugas sesuai arah hadap dan hubungannya dengan ruang dalam. Taman, dinding, dan jendela dibaca sebagai bagian dari satu keputusan penataan, sehingga rumah tetap memiliki hubungan dengan luar tanpa membuka semua bagiannya dengan cara yang sama.
Ramp menjadi bagian dari pengalaman bergerak

Rumah terdiri dari dua lantai. Biro menjelaskan lantai dasar sebagai area publik dan servis, sedangkan bagian atas menampung area yang lebih privat. Ramp digunakan sebagai sirkulasi vertikal dan disebut sebagai upaya menghasilkan arsitektur yang lebih ramah bagi pengguna. Kehadirannya membuat hubungan antartingkat ikut menjadi unsur penting dalam pengalaman ruang sehari-hari.
Penjelasan tersebut merupakan maksud perancangan. Tanpa ukuran lebar dan kemiringan yang terverifikasi, ramp ini tidak dapat langsung dinyatakan memenuhi standar aksesibilitas tertentu. Yang dapat dibaca dari proyek adalah pilihan untuk mengolah pergerakan sebagai rangkaian ruang, dengan perhatian pada cahaya dan udara pada area penghubung. Posisi serta hubungan ramp dengan program rumah menjadi sama pentingnya dengan bentuk luarnya.
Di lantai dasar, pembatas ruang dalam dan luar dapat dilipat. Ketika dibuka, teras serta taman menjadi perpanjangan ruang untuk menampung kegiatan yang memerlukan area tambahan. Fleksibilitas itu bekerja melalui batas yang bisa berubah, sehingga kebutuhan berkumpul dapat dilayani melalui hubungan antarruang yang sudah disiapkan dalam rancangan rumah.
Taman linear menyertai bukaan dan sirkulasi

Ruang hijau disusun memanjang dari depan ke belakang, lalu berlanjut ke atap bagian servis. Taman memberi arah pandang bagi ruang-ruang yang memperoleh bukaan lebar. Pada area sirkulasi, biro menggunakan celah horizontal pada dinding dan bukaan atap untuk memasukkan cahaya. Perangkat tersebut memiliki peran yang berbeda dari jendela besar pada ruang yang langsung menghadap taman.
Penataan ini ditujukan untuk memanfaatkan penghawaan dan pencahayaan alami. Artikel ini tidak mengubah tujuan tersebut menjadi angka suhu atau penghematan energi yang belum diukur. Pelajaran ruangnya terletak pada hubungan antara bukaan, area yang dilalui, dan halaman. Ketiganya perlu dilihat bersama, karena keberadaan jendela saja belum menjelaskan bagaimana udara serta cahaya mencapai bagian rumah yang lebih dalam.
Pembacaan lahan sudut juga dapat diteruskan melalui Split Mass Residence dan susunan sirkulasinya. Kedua rumah memberi bahan perbandingan mengenai cara mengatur privasi serta ruang terbuka pada kondisi hook, dengan organisasi massa dan perangkat penghubung yang berbeda.
Beton dan kayu membangun kesinambungan garis

Material utama yang dijelaskan biro adalah beton dan kayu. Pada sisi timur, beton dicetak dengan tekstur kayu. Jejak garis dari permukaan cetakan bertemu dengan pengulangan papan kayu, sehingga kedua material memiliki hubungan visual. Konsistensi permukaan diteruskan pada elemen vertikal maupun horizontal, termasuk dinding, furnitur, plafon, dan lantai.
Area masuk memperoleh kesan tinggi dan terang melalui void yang ditutup kaca. Dinding miring di dekatnya memberi perubahan geometri di antara pengulangan bidang vertikal. Dari luar, gerakan ini membentuk kontras pada fasad. Dari dalam, bentuk, cahaya, dan tekstur membantu memberi karakter pada perjalanan memasuki rumah, sebelum ruang sehari-hari berlanjut menuju taman dan bagian yang lebih privat.
Banjar House memperlihatkan bagaimana rumah hook dapat diolah melalui perbedaan orientasi, batas yang lentur, dan taman yang menyertai ruang penghubung. Melalui penjelasan resmi Wiyoga Nurdiansyah, proyek ini dapat dipelajari sebagai hubungan antara denah, pergerakan, dan material. Penerapannya pada rumah lain tetap memerlukan penyesuaian terhadap arah hadap, ukuran lahan, serta kebutuhan penghuni masing-masing.
| Data proyek | Keterangan |
|---|---|
| Proyek | Banjar House |
| Lokasi | Tangerang Selatan, Banten, Indonesia |
| Biro arsitektur | Wiyoga Nurdiansyah |
| Luas | 225 m² |
| Tahun proyek | 2020 menurut data ArchDaily; diterbitkan 19 Juli 2021 |
| Status | Selesai, dikonfirmasi situs biro |
| Program / tingkat | Rumah tinggal / dua lantai |
| Strategi ruang | Orientasi timur–barat; bukaan utara; taman linear; ramp |
| Material yang dijelaskan | Beton dan kayu; beton bertekstur kayu pada fasad timur |
| Fotografi | Jonathan Raditya |
| Gambar arsitektur | Wiyoga Nurdiansyah |








