LTR1: Hunian Vertikal Tropis yang Melingkari Hutan di El Salvador

LTR1 hunian vertikal melengkung di tengah lanskap hijau El Salvador
Massa LTR1 melengkung mengikuti kontur pegunungan di sekitarnya. Render: Carazo Arquitectura via v2com

Bagaimana jika sebuah gedung hunian vertikal tidak menebang hutan di tapaknya, tetapi justru melingkarinya? Itulah gagasan LTR1, proyek hunian campuran seluas 60.265 m2 di Nuevo Cuscatlan, kawasan metropolitan San Salvador, El Salvador, karya Carazo Arquitectura dari Kosta Rika. Proyek yang belum dibangun ini meraih Jury Winner sekaligus Popular Choice Winner di ajang Architizer A+Awards ke-14 kategori Unbuilt Multi-Unit Housing (lebih dari 10 lantai).

Bagi pembaca Indonesia, LTR1 menarik karena dirancang khusus untuk iklim tropis, dengan persoalan yang mirip dengan kota-kota kita: kepadatan tinggi, panas, dan ruang hijau yang terus menyusut.

Bukan Menara, tapi Lingkungan Vertikal

Menara hunian pada umumnya memisahkan fungsi secara berlapis: komersial di lantai dasar, hunian di atasnya, dan lanskap hanya menjadi sisa lahan atau taman atap. LTR1 menawarkan model berbeda. Bangunannya tumbuh ke atas, ke samping, dan mengelilingi tapak, menggabungkan lebih dari 400 unit hunian untuk kelas menengah dengan area ritel, kuliner, dan fasilitas bersama dalam satu lingkungan yang menyambung.

Rodrigo Carazo, pendiri Carazo Arquitectura, menyebut proyek ini berkembang dari gagasan menara menjadi lingkungan vertikal dan horizontal tanpa awal dan akhir, yang terhubung langsung dengan alam di dalam maupun di luar tapak.

Pandangan udara LTR1 berbentuk oval mengelilingi hutan
Bangunan membentuk oval di sekeliling hutan yang dipertahankan. Render: Carazo Arquitectura via v2com

Hutan sebagai Pembentuk Arsitektur

Di tengah tapak terdapat hutan yang sudah ada. Alih-alih membersihkannya, desainer membiarkan hutan menentukan bentuk bangunan: massa gedung melengkung membentuk konfigurasi oval di sekeliling pepohonan, sehingga kesinambungan ekologi tetap terjaga. Hutan di tengah ini sekaligus menjadi pengatur sirkulasi, ruang publik, dan kehidupan penghuni.

Garis atap bangunan juga terinspirasi dari lanskap sekitar. Bentuknya diturunkan dari profil foto Gunung El Picacho dan Gunung Api San Salvador yang diambil dari lokasi, lalu diterjemahkan menjadi kontur atap yang sekaligus mengatur orientasi, peneduh, dan potongan massa bangunan.

Jalur pejalan kaki dan area komersial LTR1
Area komersial dibuat rendah agar ramah pejalan kaki. Render: Carazo Arquitectura via v2com

Volume komersial yang menghadap kota dibuat hanya satu sampai dua lantai agar terasa ramah pejalan kaki. Di bagian dasar terdapat distrik komersial dan kuliner bernama Quadra, dengan restoran, toko, dan plaza publik. Di lantai-lantai atas tersebar ruang kerja bersama, taman, teras, dan fasilitas kebugaran.

Strategi Desain Iklim Tropis

Kinerja lingkungan ditanam langsung dalam tata ruang. Rongga yang dipahat pada massa bangunan membentuk halaman teduh, taman langit, dan sirkulasi berventilasi silang yang memberi cahaya alami dan pendinginan pasif. Material beton dipadukan dengan permukaan bervegetasi untuk mengurangi panas yang diserap bangunan.

Kolam dan teras hijau di LTR1
Kolam dan teras hijau menjadi bagian dari fasilitas bersama. Render: Carazo Arquitectura via v2com

Fasilitas bersama disusun mengikuti ekosistem El Salvador, dari terumbu karang, hutan kering, hutan awan, hingga hutan hujan. Zona lobi mengambil karakter bioma kering, ruang komunal tengah memakai bioma lembap, sedangkan kolam dan area wellness mengikuti ekosistem air. Tata letak unitnya fleksibel untuk bekerja dari rumah dan keluarga multigenerasi.

Interior ruang komunal LTR1 dengan tanaman
Ruang komunal mengikuti tema ekosistem El Salvador. Render: Carazo Arquitectura via v2com

Pelajaran untuk Kota Tropis di Indonesia

Carazo menyebut kerangka risetnya Tropical Vertical Urbanism: kepadatan vertikal yang tidak sekadar menumpuk luas lantai, tetapi menyatukan hunian, ekologi, dan kehidupan publik. Pendekatan ini relevan untuk kota seperti Jakarta, Surabaya, atau Medan, di mana hunian vertikal kerap hadir sebagai menara tertutup yang bergantung pada AC dan terputus dari ruang hijau.

Perlu dicatat, LTR1 masih berupa desain dan belum dibangun, sehingga belum ada informasi harga unit, termasuk perkiraan dalam Rupiah. Namun prinsipnya, seperti mempertahankan pohon yang ada, ventilasi silang, dan ruang bersama yang tersebar, bisa diterapkan pada proyek apartemen di Indonesia. Topik ini juga berkaitan dengan ulasan kami tentang strategi desain hunian untuk mengatasi krisis perumahan.

Melalui LTR1, Carazo Arquitectura menunjukkan bahwa hunian padat di kota tropis bisa tetap hijau, sejuk, dan hidup sebagai sebuah lingkungan.

Lokasi: Nuevo Cuscatlan, kawasan metropolitan San Salvador, El Salvador. Peta: Google Maps
Data proyek LTR1
Lokasi Nuevo Cuscatlan, El Salvador
Arsitek Carazo Arquitectura (Kosta Rika)
Tim desain Rodrigo Carazo, Vanessa Duran, Catalina Gutierrez, Maricruz Cabada
Jenis proyek Hunian campuran (multi-hunian)
Luas 60.265 m2
Jumlah unit Lebih dari 400
Program Hunian, ritel, kuliner, coworking, wellness, ruang publik
Status Belum dibangun (desain 2024)
Penghargaan Jury Winner dan Popular Choice, Architizer A+Awards ke-14

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Situs ini menggunakan Akismet untuk mengurangi spam. Pelajari bagaimana data komentar Anda diproses