
Di banyak kota, rumah bungalow tua perlahan digantikan oleh hunian baru yang lebih besar. Tantangannya adalah bagaimana rumah baru tetap terasa menjadi bagian dari lingkungan lama. Atlas House karya Studio VAARO di Toronto, Kanada, menjawab tantangan itu dengan cara yang menarik: memakai bentuk atap pelana yang akrab di kawasan tersebut, lalu menafsirkannya ulang dengan bahasa arsitektur yang lebih kontemporer.
Rumah dua lantai ini dibangun di atas lahan sudut di kawasan Humewood-Cedarvale, menggantikan sebuah bungalow. Luasnya sekitar 2.925 kaki persegi (sekitar 272 m2) dan rampung pada 2025.
Atap Pelana yang Ditafsir Ulang
Rumah-rumah di sekitar Atlas House umumnya memiliki atap pelana klasik. Studio VAARO tidak menghindari bentuk itu, tetapi justru menjadikannya titik awal desain. Hasilnya adalah massa bangunan yang langsung terbaca sebagai “rumah” oleh siapa pun yang melintas, namun dengan detail yang lebih tegas: bukaan jendela yang bersih, teras masuk yang dipahat ke dalam massa bata, dan garis atap yang tajam.

Pendekatan ini relevan juga untuk konteks Indonesia. Banyak perumahan lama di kota-kota kita memiliki karakter atap yang khas. Mengikuti bentuk dasar tersebut sambil memperbarui detail dan material adalah cara sederhana agar rumah baru tidak terasa “asing” di lingkungannya.
Bata Buatan Tangan sebagai Kulit Bangunan
Seluruh fasad, termasuk tangga depan, dibungkus bata Belgia buatan tangan. Bentuk batanya tidak seragam dan warnanya bervariasi dari merah tanah liat hingga ungu gelap. Agar tampilannya tetap rapi, tim arsitek bekerja erat dengan tukang bata untuk mengatur warna adukan (mortar), ukuran dan kedalaman nat, serta pola susunan bata.

Hasilnya, setiap bata tetap terlihat jelas karakternya jika dilihat dari dekat, tetapi dari kejauhan seluruh fasad terbaca sebagai satu kesatuan. Ini contoh bagus bahwa material sederhana seperti bata bisa tampil istimewa jika detail pemasangannya dipikirkan dengan serius, sesuatu yang juga bisa diterapkan pada rumah bata ekspos di Indonesia.
Interior Terang dengan Terrazzo
Berbeda dengan eksterior yang kaya tekstur, interior Atlas House sengaja dibuat tenang. Palet materialnya terdiri dari kayu alami, terrazzo putih-abu, dan warna-warna lembut. Lantai dasar memakai denah semi terbuka: ruang keluarga kecil dengan perapian di sisi barat, ruang makan dan pantry di sisi timur, serta dapur di bagian tengah.

Terrazzo menjadi benang merah di lantai dasar. Perapian dan bangku, meja pulau dapur, serta meja pantry dibuat dari lempengan terrazzo dengan ketebalan yang sama, sehingga ketiganya menjadi titik fokus yang saling berhubungan. Lantai atas berisi dua kamar tidur, walk-in closet, ruang kerja, dan dua kamar mandi, sementara basement menjadi ruang tinggal terpisah untuk anggota keluarga besar.

Tangga Lengkung dan Rumah Ramah Lansia
Sebuah tangga berbentuk lengkung menghubungkan seluruh lantai, dari basement hingga lantai dua. Lengkungnya menjadi kontras bagi bentuk rumah yang serba lurus, dan diulang pada bukaan plafon serta pertemuan dinding dengan lantai. Skylight tepat di atas tangga membawa cahaya alami hingga ke bagian tengah rumah.
Satu hal yang patut dicatat: pemilik rumah ingin bisa tinggal di rumah ini hingga usia lanjut. Karena itu, semua lantai terhubung dengan lift, dan seluruh pintu, koridor, serta shower dirancang agar bisa diakses kursi roda. Konsep “aging in place” seperti ini semakin penting, termasuk bagi keluarga Indonesia yang tinggal bersama orang tua.
Proyek ini mengingatkan pada Everden Residence, rumah modern lain di Toronto yang pernah kami ulas. Informasi lebih lanjut tentang Atlas House tersedia di situs resmi Studio VAARO.
| Data proyek | Atlas House |
|---|---|
| Lokasi | Humewood-Cedarvale, Toronto, Ontario, Kanada |
| Arsitek | Studio VAARO |
| Jenis | Rumah tinggal dua lantai dengan basement |
| Luas | 2.925 kaki persegi (sekitar 272 m2) |
| Selesai | 2025 |
| Material utama | Bata Belgia buatan tangan, terrazzo, kayu |
| Fitur | Tangga lengkung, skylight, lift, akses kursi roda |
| Foto | Scott Norsworthy |








