Restoran noma Baru, Denmark / BIG

Restoran pemenang penghargaan, noma, bekerja dengan BIG (Bjarke Ingels Group) untuk membangun rumah barunya, yakni desa restoran di luar pusat kota Kopenhagen.

Sejak dibuka, noma telah unggul dalam hal keahlian memasak dan kreativitas. Restoran tersebut telah empat kali masuk ke dalam daftar “50 Restoran Terbaik Dunia”. Tahun lalu mereka menutup satu restoran nya yang telah menjadi rumah nya selama empat belas tahun. Setelah lebih dari tiga tahun perencanaan, rumah baru noma dibuka kembali pada bulan Februari tahun ini di ruang yang dikembangkan dan dibangun dalam kemitraan dengan BIG.

Terletak di antara dua danau dan di dalam komunitas Christiania, restoran baru ini dibangun di lokasi gudang bekas militer yang pernah digunakan untuk menyimpan ranjau untuk Angkatan Laut Kerajaan Denmark. Diimajinasikan sebagai desa taman yang akrab, para tamu disambut untuk merasakan menu dan filosofi baru yang akan mendefinisikan ulang noma untuk masa mendatang.

“Ketika kami menemukan lokasi untuk restoran noma baru ini, kami tahu bahwa kami harus memberikan solusi arsitektural yang masuk akal bagi tamu kami, tim dan juga lingkungan sekitar,” kata Peter Kreiner, Chief Executive Officer, noma. “Saya percaya apa yang dilakukan Bjarke Ingels dan tim BIG akan mendatangkan solusi non-pretensi yang ideal dan kami akan senang menyebutnya sebagai rumah kami untuk tahun-tahun mendatang.

Dalam mendesain ini, yang utama bagi BIG adalah ide menghilangkan fungsi-fungsi individual restoran dan mengaturnya sebagai kumpulan bangunan yang terpisah namun terhubung. Sebanyak sebelas ruangan yang masing-masing memiliki kebutuhan spesifik, dibangun menggunakan material terbaik dan yang paling cocok untuk fungsi mereka. Semuanya membentuk kluster yang mengitari jantung restoran, yakni dapur.

“Kolaborasi kami dengan Chef dan pemilik noma, René Redzepi, serta tim noma, telah berkembang sejak makan malam pertama saya di tempat ini sekitar empat belas tahun yang lalu. Mirip dengan gagasan kami tentang keberlanjutan hedonistik — di mana kota yang lebih berkelanjutan merupakan kota yang paling menyenangkan untuk ditinggali — noma telah memelopori masakan yang dibangun di atas nilai-nilai bersama untuk kreativitas dan keberlanjutan,” kata Bjarke Ingels, Mitra Pendiri, BIG.

Bjarke melanjutkan, “noma baru memilah-milah gagasan tradisional dari sebuah restoran dan merangkainya kembali dengan cara menempatkan para juru masak di jantung semua itu.
Setiap bagian dari alur pengalaman ruang restoran — kedatangan, lounge, barbeque, pilihan anggur, dan perusahaan swasta — semuanya berkerumun mengitari para koki. Dari posisi sentral nya, mereka memiliki gambaran yang sempurna ke setiap sudut restoran sambil memberi kesempatan kepada setiap tamu untuk melihat apa yang terjadi di belakang layar. Setiap ‘bangunan di dalam gedung’ dihubungkan oleh jalur beratap kaca yang memungkinkan koki dan tamu untuk mengikuti perubahan cuaca, siang dan musim — menjadikan lingkungan alami sebagai bagian integral dari pengalaman kuliner.”

Dapur noma dirancang seperti panoptik dengan tudung besar yang melayang di atas koki. Dari sini, para koki dapat mengawasi seluruh dapur dan area tamu, termasuk ruang makan dan ruang makan pribadi yang berdekatan. Ruang-ruang ini terbuat dari papan kayu bertumpuk yang menyerupai kayu yang ditumpuk rapi di halaman kayu.

Sebuah skylight besar dan serangkaian jendela geser yang luas memberi akses ke luar ruangan dan memungkinkan para tamu untuk benar-benar merasakan semua musim dan suasana alam di sekitar restoran. Di luar sana, ada tiga rumah kaca yang berfungsi sebagai taman restoran, dapur uji, dan toko roti.

Para tamu berkesempatan untuk berjalan mengitari bangunan sekitarnya untuk sekedar melihat-lihat berbagai bahan Nordic dan teknik membuatnya. Di antara bangunan, pengunjung akan mendapati ruang tertutup dengan kaca, sehingga hubungan konstan dengan alam akan tetap terasa sepanjang masa.

Gudang bersejarah sepanjang 100 m menghiasi lingkaran bangunan di sekitar dapur. BIG mempertahankan cangkang beton dari gudang dan mengkombinasikan nya dengan rak kayu besar untuk penyimpanan dan pajangan. Semua fungsi ‘BOH’ (belakang rumah) terletak di sini, termasuk dapur persiapan, laboratorium fermentasi, tangki ikan, terarium, peternakan semut dan area istirahat untuk staf. Para tamu yang berjalan di samping gedung bisa sesekali melihat sekilas kegiatan di belakang layar di dalam restoran tersebut.

DATA

Klien: noma
Luas: 1,290 m2
Lokasi: Refshalevej, Copenhagen, Denmark
Kolaborator: BIG Ideas, BIG Engineering, NT Consult, Studio David Thulstrup, Thing&Brandt Landskab

BIG-BJARKE INGELS GROUP

PARTNERS-IN-CHARGE: Bjarke Ingels, Finn Nørkjær
Manajer Proyek: Ole Elkjær-Larsen, Tobias Hjortdal
Pimpinan Proyek: Frederik Lyng
Tim: Olga Litwa, Lasse Lyhne-Hansen, Athena Morella, Enea Michelesio, Jonas Aarsø Larsen, Eskild Schack Pedersen, Claus Rytter Bruun de Neergaard, Hessam Dadkhah, Allen Dennis Shakir, Göcke Günbulut, MIchael Kepke, Stefan Plugaru, Borko Nikolic, Dag Præstegaard, Timo Harboe Nielsen, Margarita Nutfulina, Nanna Gyldholm Møller, Joos Jerne, Kim Christensen, Tore Banke, Kristoffer Negendahl, Jakob Lange, Hugo Yun Tong Soo, Morten Roar Berg, Yan Ma, Tiago Sá, Ryohei Koike, Yoko Gotoh, Kyle Thomas David Tousant, Geoffrey Eberle, Jinseok Jang, Ren Yang Tan, Nina Vuga, Giedrius Mamavicius, Yehezkiel Wiliardy, Simona Reiciunaite, Yunyoung Choi, Vilius Linge, Tomas Karl

Info lebih lanjut: m.big.dk/getslideshow/338

Al Hilal: Lahir dan besar di Madura, Al Hilal lulus sekolah arsitektur setelah tujuh tahun belajar di sebuah istitut di Bandung. Dia mencintai Arsitektur sebagi seni dan teknologi, bagi dia dunia arsitektur memiliki medan magnet yang kuat yang selalu menarik jiwanya untuk larut dalam medan konduksinya. Mempublikasian karya-karya arsitektur dari seluruh dunia secara digital merupakan caranya untuk menikmati karya seni dan inovasi teknologi, sebuah cara untuk merangkul jiwanya yang ingin selalu bercengkrama dengan dunia arsitektur.